PENGARUH PERTUMBUHAN USAHA MIKRO KECIL ( UMK) DAN PENGANGGURAN TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI PROVINSI MALUKU
PROPOSAL
DISUSUN OLEH
NAMA:
NIM:
JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2020
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi dan syukur kita panjatkan kepada Allah SWT atas Rahmat-Nya yang selama ini kita dapatkan, yang memberi hikmah dan yang paling bermanfaat bagi seluruh umat manusia, sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal dengan judul “ Pengaruh Pertumbuhan Usaha Mikro Kecil (UMK) dan Pengangguran terhadap pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Maluku” dengan baik dan tepat waktu.
Dalam proses pnyelsaian penulisan proposal ini, tidak sedikit tantangan dan hambatan yang di temui, namun dengan kemauan sungguh dan dorongan serta bantuan dari berbagai pihak, maka penulisan ini dapat diselesaikan. Oleh karna itu melalui kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih dan pengahargaan setinggi-tingginya kepada semua pihak terkait yang telah membantu terselesaikannya proposal ini.
Pada akhirnya demi penyempurnaan penulisan ini, maka kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan. Harapan penulis semoga penulisan ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya.
Ambon, 29 juli 2020
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pertumbuhan ekonomi dapat didefenisikan sebagai perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang di produksi dalam masyarakat bertambah. Sedangakan pembangunan ekonomi didefenisikan sebagai pertumbuhan ekonomi yang diikuti oleh perubahan dalam struktur dan corak kegiatan ekonomi (Sukirno, 2011:423)
Tujuan pembangunan ekonomi setiap Negara adalah tercapainya pembangunan ekonomi yang adil dan merata. Pembangunan ekonomi adalah sebuah usaha untuk meningkatkan taraf hidup suatu bangsa yang di ukur melalui tinggi rendahnya pendapatan rill per kapita. Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses multidimensi yang melibatkan perubahan-perubahan besar dalam struktul social, sikap masyarakat dan kelembagaan nasional, seperti halnya percepatan pertumbuhan ekonomi, pengurangan ketidakmerataan dan pemberantasan kemiskinan absolut (Todaro, 2009:16)
Indonesia merupakan Negara berkembang, tentunya pembangunan ekonomi di Negara berkembang bertujuan menciptakan tingkat gross national product (GNP) yang setinggi-tingginya, akan tetapi di ikuti dengan pemberantasan kemiskinan, penanggulangan ketimpangan pendapatan, penyediaan lapangan kerja, pendidikan yang lebih baik, peningkatan standar kesehatan dan nutrisi, perbaikan kondisi lingkungan hidup, pemerataan kesempatan, pemerataan kebebasan individual dan penyegeraan kehidupan budaya. (Widyanto, 2013:1. )
Salah satu ukuran pembangunan dan pertumbuhan ekonomi suatu Negara dapat dilihat dari pendapatan nasionalnya, ukuran pendapatan nasional yang sering digunakan adalah Produk Domestik Bruto. Produk Domestik Bruto (PDB) diartikan sebagai total nilai atau harga pasar (market price) dari seluruh barang dan jasa akhir (final goods and services) yang dihasilkan oleh suatu perekonomian selama kurun waktu tertentu (biasaya 1 tahun). (Muana Nanga 2001 dalam Hapsari 2014:89). Jadi PDB merupkan indikator penting untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi suatu Negara, apabila PDB suatu Negara terus naik maka dapat dikatakan Negara tersebut perekonomiannya lebih baik dari tahun sebelumnya. Propinsi Maluku yang memiliki laju pertumbuhan ekonomi yang cukup stabil. Hal ini dapa dilihat dari table di bawah ini:
Tabel 1.1
Produk Domestik Regional Bruto di Provinsi Maluku Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 2010 Dari Tahun 2010-2018 (Juta Rupiah),
|
Tahun |
PDRB Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 2010 (Juta Rupiah)
|
|
2010 |
18.428.584,55 |
|
2011 |
19.597.390,14 |
|
2012 |
21.000.078,81 |
|
2013 |
22.104.137,71 |
|
2014 |
23.585.068,72 |
|
2015 |
24.921.708,33 |
|
2016 |
26.291.193,81. |
|
2017 |
27.909.795,34 |
|
2018 |
29.497.662,79 |
Sumber: BPS Provinsi Maluku 2018
Berdasarkan table 1.1 menunjukan bahwa sampai tahun 2018 pertumbuhan ekonomi di Provinsi Maluku dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2010 sebesar 18.428.584,55 pada tahun selanjutnya 2011 sebesar 19.597.390,14 pada tahun selanjutnya 2012 sebesar 21.000.078,81 dan tertinggi pada tahun 2018 sebesar 29.497.662,79.
Untuk mencapai perekonomian yang lebih baik maka digunakan salah satu paradigma pembangunan yaitu melalui strategi pemberdayaaan. Konsep empowerment sebagai suatu konsep alternative pembangunan, yang pada intinya memberikan tekanan pada otonomi pengambilan keputusan dari suatu kolompok masyarakat, yang berlandaskan pada sumberdaya pribadi, langsung, melalui partisipasi, demokrasi, dari pembelajaran social melalui pengalaman langsung. (Friedment, 1999 dalam Hapsari 2014)
Kebijakan pemberdayaan UMK secara umum diarahkan untuk mendukung upaya penanggulangan kemiskinan dan kesenjangan, penciptaan kesempatan kerja, peningkatan, peningkatan ekspor dan daya saing, serta revitalisasi pertanian dan pedesaan yang menjadi prioritas nasional. (Sumodiningrat, 2015)
Ketika terjadi krisis ekonomi 1998, hanya sektor UMK yang dapat betahan dari kolepsnya ekonomi, sementara sektor usaha yang lebih besar (UB) justru tumbang oleh krisis. Krisis ini mengakibatkan kedudukan posisi pelaku sektor ekonomi berubah. Usaha Besar satu persatu mengalami bangkrut karena bahan baku import meningkat secara drastis, biaya cicilan meningkat sebagai akibat dari nilai tukar rupiah terhadap dolar yang menurun dan fluktuatif. Sektor perbankan yang di ikuti terpuruk turut memperparah sektor industry dari sisi permodalan. Banyak perusahaan yang tidak mampu lagi meneruskan usaha karena tingkat Bunga yang tinggi. Berbeda dengan UMK yang sebagian besar dapat bertahan, bahkan cenderung bertambah. (Krisyanti, 2012)
UMK di Indonesia selalu di gambarkan sebagai sektor yang mempunyai peranan penting dalam pembangunan ekonomi, karena sebagian besar jumlah penduduk di Indonesia berpendidikan rendah dan hidup dalam kegiatan usaha mikro kecil baik sektor tradisional maupun sektor modern. Serta UMK mampu menyerap banyak tenaga kerja baik di pedesaan maupun perkotaan. UMK ini menjadi bagian yang penting dalam pembangunan ekonomi di Indonesia.
UMK mempunyai peran yang sangat penting dalam menggerakkan roda perekonomian Provinsi Maluku. Pengelola usaha ini sebagian besar dilakukan secara sederhana dan memerlukan modal yang relative kecil sehingga lebih diminati sebagai wadah usaha yang menghasilkan nilai ekonomi. Berikut ini adalah data Posisi Kredit Usaha Mikro Kecil di Provinsi Maluku.
Tabel 1.2
Posisi Kredit Usaha Mikro Kecil Bank Umum lokasi Proyek di Provinsi Maluku 2010-2018 ( juta Rp )
|
Tahun |
Posisi Kredit UMK Bank Umum lokasi Proyek ( juta Rp )
|
|
2010 |
827.922 |
|
2011 |
1.202.065 |
|
2012 |
1.154.952 |
|
2013 |
1.288.179 |
|
2014 |
1.508.848 |
|
2015 |
1.753,124 |
|
2016 |
1.955,518 |
|
2017 |
2.189,560 |
|
2018 |
2.628,609 |
Sumber: KPW Bank Indonesia Provinsi Maluku
Dari tabel 1.2 di atas menunjukan pada tahun 2010 sampai tahun 2018 Posisi Kredit Usaha Mikro Kecil mengalami kenaikan kecuali tahun 2012 mengalami penurunan . pada tahun 2010 posisi kredit UMK sebesar Rp 827.922. selanjutnya pada tahun 2011 mengalami peningkatan Rp 1.202.065. selanjutnya pada tahun 2012 mengalami penurunan sebesar Rp 1.154.952 dan. selanjutnya pada tahun 2013 mengalami peningkatan sebesar Rp1.288.179. selanjutnya pada tahun 2014 mengalami peningkatan sebesar Rp 1.508.848 dan peningkatan tertinggi pada tahun 2018 sebesar Rp 2.628,609 .
Pengangguran merupakan salah satu masalah yang selalu dihadapi dan sulit untuk di hindari bagi suatu Negara, baik di Negara berkembang maupun Negara maju, namun pada umumnya tingkat pengangguran cenderung lebih tinggi di hadapi oleh Negara-negara berkembang. Pengangguran merupakan keadaan dimana seseorang tidak memiliki pekerjaan, bekerja kurang dari waktu kerja, atau sedang mencari kerja (Rafiq et al, 2010)
Pengangguran memiliki keterbatasan yang perlu di perhatikan karena pengangguran sangat berpengaaruh pada terjadinya masalah kerawanan berbagai kriminal dan gejolak social, politik, dan kemiskinan. Suatu Negara dapat menghasilkan dampak negatif terhadap perekonomian Negara disebabkan oleh tingginya tingkat pengangguran. Dampak dari pengangguran tidak hanya menjadi beban tersendiri namun juga berdampak pada pemerintah, keluarga maupun lingkungan dan lain-lain (Amelia, 2012). Berikut ini adalah data jumlah Pengangguran di Provinsi Maluku.
Table 1.3
Jumlah Pengangguran di Provinsi Maluku Tahun 2010-2018 (jiwa)
|
Tahun |
Jumlah Pengangguran di Provinsi Maluku (jiwa) |
|
2010 |
64,909 |
|
2011 |
51,781 |
|
2012 |
49,591 |
|
2013 |
64,689 |
|
2014 |
70,653 |
|
2015 |
72,196 |
|
2016 |
52,363 |
|
2017 |
65,735 |
|
2018 |
54,891 |
Sumber : BPS Provinsi Maluku 2018
Dari table 1.3 diatas dapat di lihat bahwa jumlah pengangguran di Provinsi Maluku dari tahun-tahun yang fluktuatif. Pada tahun 2010 jumlah pengangguran di Provinsi Maluku sebanyak 64,909 jiwa, dan mengalami penurunan pada tahun 2011 sebanyak 51,781 jiwa dan tahun 2012 sebanyak 49,591 jiwa, dan mengalami peningkatan 2013 sebanyak 64,689 jiwa, tahun 2014 sebanyak 70,653 jiwa dan tahun 2015 sebanyak 72,196 jiwa dan mengalami penurunan pada tahun 2016 sebanyak 52,363 jiwa, dan mengalami peningkatan tahun 2017 sebanyak 65,735 jiwa dan mengalami penurunan pada tahun 2018 sebesar 54,891 jiwa.
Berdasarkan uraiann yang di jelaskan di atas maka penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang “ Pengaruh Pertumbuhan Usaha Mikro Kecil (UMK) dan Pengangguran Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Maluku ”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan maka rumusan masalah yang dapat diambil yaitu :
1. Apakah ada Pengaruh Pertumbuhan Usaha Mikro Kecil terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Maluku?
2. Apakah ada Pengaruh Pengangguran terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Maluku ?
3. Apakah ada Pengaruh Pertumbuhan Usaha Mikro Kecil dan Pengagguran terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Maluku ?
Adapun tujuan penelitian sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui apakah ada Pengaruh Pertumbuhan Usaha Mikro Kecil terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Maluku.
2. Untuk mengetahui apakah ada Pengaruh Pengangguran terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Maluku.
3. Untuk mengetahui apakah ada Pengaruh Pertumbuhan Usaha Mikro Kecil dan Pengagguran terhadap Perttumbuhan Ekonomi di Provinsi Maluku ?
Adapun manfaat penelitian sebagai berikut :
1. Secara teoritis , penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan kajian atau bahan penelitian lebih lanjut serta menambah informasi yang berkaitan dengan pertumbuhan UMK dan pengangguran terhadap pertumbuhan ekonomi provinsi maluku.
2. Menambah wawasan keilmuan bagi mahasisiwa tentang pertumbuhan UMK dan pengangguran terhadap pertumbuhan ekonomi provinsi maluku.
3. Sebagai bahan referensi penulis dan peneliti selanjutnya untuk bidang dan kajian yang sama.
1.5. Sistematika Penulis
BAB I : Berisi tentang latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan
BAB II : Bab ini berisi tinjauan teori yang berisi teori, penelitian terdahulu, kerangka pemikiran, dan hipotesis awal penelitian.
BAB II : Bab ini berisi metodologi penelitian yang terdiri dari lokasi penelitian, variable penelitian, metode pengumpulan data, jenis dan sumber data dan metode analisis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Usaha MIkro Kecil (UMK)
Defenisi Usaha Mikro, Kecil Berikut ini adalah beberapa defenisi UMK menurut lembaga pemerintah dan UU :
1. Menurut Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menegah (Kemenkop dan UKM).
Usaha Kecil (UK) termaksud Usaha Mikro (UMI), adalah entitas usaha yang mempunyai memiliki kekayaan bersih paling banyak 200 juta, tidak termaksuk tanah dan bangunan tempat usaha, dan memiliki penjualan tahunan paling banyak Rp1 milyar.
2. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS)
UMK berdasarkan kuantitas tenaga kerja yaitu usaha mikro merupakan entitas usaha yang memiliki jumlah tenaga kerja 1 sampai 5 orang dan usaha kecil merupakan entitas usaha yang memiliki jumlah tenaga kerja 5 sampai 19 orang,.
3. Munurut Keputusan Menteri Keuangan nomor 316/KMK/.016/1994 tanggal 27 juni 1994
Usaha kecil di defenisikan sebagai perorangan atau badan usaha yang telah melakukan kegiatan /usaha yang mempunyai penjuan/omset per tahun setinggi-tingginya Rp 600.000.000 atau asset/aktiva setinggi tingginya Rp 600.000.000 ( diluar tanah dan bangunan yang di tempati) terdiri : (1) bidang usaha ( Fa, CV, dan Kopesi) dan (2) perorangan (pengrajin/ industry, tangga, petani, pertenak, nelayan, perambahan hutan, penambangan, pedagang barang dan jasa)
4. Munurut UU RI No 20 tahun 2008
Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang atau perorangan atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro yang sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. Kriteria usaha mikro adalah memiliki kekayaan bersi paling banyak Rp. 50 juta tidak termaksuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki penjualan tahunan paling banyak Rp. 300 juta.
Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh perorangan atau bahkan usaha yang bukan merupakan anak perusahaaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria usaha kecil sebagaimana dalam undang-undang ini. Kriteria usaha kecil adalah memiliki kekayaan bersih paling banyak 500 juta tidak termaksut tanah dan bangunan tempat usaha dengan total pengahasilan sekitas Rp. 300 juta sampai Rp. 2,5 milyar
5. Menurut Word Bank
UMK dapat dikelompokan dalam dua jenis, yaitu usaha mikro (jumlah karyawan 10 orang) dan usaha kecil(jumlah karyawan 30 orang). Dalam perspektif usaha UMK di klasifikasikan dalam 4 kelompok, yaitu:
a) Livelihood Activities, merupakan UMK yang digunakan sebagai kesempatan kerja untuk mencari nafka, yang lebih umum di kenal sebagao sektor informal. Contohnya adalah pedagang kaki lima
b) Micro Enterprise, merupakan UMK yang memiliki sifat kewiraausahaan dalam mengembangkan usahanya
c) Small Dynamic Enterprise, merupakan UMK yang mampu berwirausaha dengan menjalin kerjasama (menerima pekerjaan subkontrak) dan ekspor
d) Fast Moving Enterprise, merupakan UMK yang telah memiliki jiwa kewirausahaan dan akan melakukan transformasi menjadi Usaha Besar (UB)
Diakui bahwa usaha mikro, kecil (UMK) memiliki peran penting di dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Seara umum UMK dalam perekonomian nasional memiliki peran : (1) sebagai pemeran utama dalam kegiatan ekonomi, (2) penyedia lapangan kerja terbesar, (3) pemain penting dalam pengembangan perekonomian local dan pemberdayaan masyarakat, (4) penciptaan pasar baru dan sumber inovasi, serta (5) kontribusnya terhadap neraca pembayaran. (Departemen Koperasi).
Menurut Vankatesh (2012:739) bahwa dua pertiga dunia usaha didunia adalah UMK dan jumlah terbanyak ada di daerah, UMK mampu minciptakan banyak lapangan kerja dengan sedikit modal dan UMK tersebar hingga pelosok daerah dan sebagai salah satu usaha pengentasan kemiskinan. UMK memiliki peran penting yaitu sebagai penyedian lapangan kerja bagi kaum monoritas yaitu masyarakat dengan kelas belakang (pendidikan rendah) dan juga wanita.
Salah satu keunggulan UMK adalah, ia terkadang sangat lincah mencari peluang untuk berinovasi untuk menerapkan teknologi baru ketimbang perusahaan-perusahaan yang besar yang mapan. Tak mengherankan jika dalam era persaingan global saat ini banyak perusahaan besar yang bergantung pada pemasok-pemasok kecil menengah. Sesunggunya ini peluang bagi kita untuk turut berkecimpung di era global sekaligus menggerakan sektor ekonomi rill (zuhal, 2010).
Menurut UU No. 2 Tahun 2008, pemberdayaan adalah upaya yang dilakukan pemerintah, pemerintah daera, dunia usaha dan masyarakat seara sinergis bentuk pertumbuhan iklim dan pengembangan usaha terhadap usaha mikro, kecil Sehingga mampu tumbuh dan berkembang menjadi usaha yang tanggu dan mandiri. Prinsip pemberdayaan UMK yaitu:
1. Perrtumbuhan kemandirian, kebersamaan dan kewirausahaan UMK untuk berkarya dengan prakarsa sendiri.
2. Perwujutan kebijakan public yang transparan, akuntabel dan berkeadilan
3. Pengembangan usaha berbasis potensi daerah dan berorientasi pasar sesuai dengan kopetensi UMK.
4. Peningkatan daya saing UMK
5. Penyelarasan perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian secara terpadu.
Insikator keberhasilan yang di pakai untuk mengukur pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat Usaha Mikro Kecil (UMK) (Sumodininggrat dalam Hapsari, 2014:91) yang mencakup:
a) Berkurangnya jumlah penduduk miskin. Hal ini berarti makin bertambahnya lapangan kerja dan jumlah tenaga kerja yang terserap pada sektor Usaha Mikro Kecil (UMK) sehingga kesejatraan penduduk meningkat.
b) Berkembangnya usaha peningkatan pendapatan yang dilakukan masyarakat melalui pendirian usaha baru dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia, artinya ada kenaikan jumlah usaha terutama Usaha Mikro Kecil yang diciptakan oleh penduduk yang menjadi target pemberdayaan. Peningkatan pendapatan berhubungan erat dengan tingkat keuntungan atau laba yang di peroleh masyarakat Usaha Mikro Kecil
c) Meningkatkan kepedulian masyrakat terhadap upaya peningkatan kesejateraan keluarga miskin di lingkungannya.
d) Meningkatkan kemandirian kelompok yang di tandai dengan makin berkembangnya usaha produktif anggota dan kelompok, makin rapinya sistem administrasi kelompok, serta makin luasnya interaksi social dengan kelompok lain meninkatkannya kapasitas masyarakat dan pemerataan pendapatan yang di tandai dengan peningkatan pendapatan keluarga miskin yang mampu memenuhi kebutuhan pokok dan kebutuhan social dasarnya.
Usaha pemerintah dalam membantu usaha mikro kecil dilakukan di dua arah,yaitu yang berkenaan dengan kebijakan fiskal dan kebijakan moneter. Di kebijakan fiscal pemerintah berusaha untuk meningkatkan dan memberikan bantuan kepada UMK agar dapat berkembang dengan baik. Proyek bimbingan pengembangan industry kecil (BIPIK) dan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan yang dilaksanakan direktoral jendral industry kecil merupakan contohnya. Dalam kebijakan moneter, pemerintah mengembangkan perusahan-perusahan kecil milik pribumi, seperti KIK ( kredit investasi Kecil) dan KMKP (Kredit Modal Kerja Permanen). Pengawasan usaha-usaha kecil yang telah dianggap perlu dibantu melalui badan-badan milik Negara juga merupakan bagian dari program kebijakan moneter ( Tejasari, 2008).
Perusahaan kecil mempunyai tiga pilihan untuk mendapatkan modal agar usahan dapat berjalan, yaitu melalui sumber-sumber resmi seperti bank-bank milik pemerintah, sumber semi resmi seperti koperasi, jasa-jasa sektoral, dan sumber-sumber perorangan. Dalam hal peminjaman modal para pengusaha memiliki berbagai macam pertimbangan. Pertimbangan itu antara lain besar bunga yang harus dibayar, prosedur peminjaman, waktu pencairan modal, atau bantuan apakah cepat atau lambat. (Rahadjo dan ali, 1993).
Faktor pendukung yang sangat penting dalam menjaga keberadaan UMK adalah lembaga keuangan baik bank maupun non-bank. Sebabnya pembiayaan kredit lembaga keuangan dapat mengairahkan UMK agar mandiri karena modalnya bertambah. Disini, peranan lembaga keuang bukan hanya melalui pemberian kredit saja, tetapi jasa pelayanan keuangan lainya yang diarahkan guna meningkatkan efesiensi.
2.2. Pengangguran
Defenisi pengangguran dalam arti luas adalah penduduk yang tidak berkerja tetapi sedang mencari pekerjaan atau sedang mempersiapkan suatu usaha baru atau penduduk yang tidak mencari pekerjaan karena sudah diterima bekerja tetapi belum memulai bakerja. Pengangguran adalah masala makroekonomi yang mempengaruhi manusia secara langsung dan merupakan masala yang paling berat. Kebanyakan orang yang kehilangan pekerjaan berarti penurunan standar kehidupan dan tekanan psikologis. Jadi tidaklah mengejutkan jika pengangguran menjadi topik yang sering di bicarakan dalam perdebatan politik dan para politisi sering mengklaim bahwa kebijakan yang mereka tawarkan akan membantu menciptakan lapangan kerja (Mankiw,2006:154).
Pengangguran atau (unemployment) merupakan kenyataan yang dihadapi tidak hanya di Negara-negara sedang berkembang (developing countries) akan tetapi juga Negara Negara yang sudah maju (developed countries). Secara umum, penganguran di defenisikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang yang tergolong dalam kategori angkatan kerja (labor force) tidak memiliki pkerjaan dan secara aktif sedang mencari pekerjaan (nanga,2001). Seseorang yang tidak bekerja tetapi secara aktif mencari pekerjaan tidak dapat di golongkan sebagai pengangguran. Selain itu pengangguran di artikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang yang tergolong dalam angkatan kerja ingin mendapatkan pekerjaan dan belum dapat memperolehnya (Sukirno, 2000). Untuk mengetahui tingkat pengangguran dapat diamati melalui dua pendekatan antara lain sebagai berikut:
1. Pendekatan Angkatan Kerja (Labour force approach) Besar kecilnya tingkat pengangguran dihitung berdasarkan presentasi dari perbandingan jumlah antara orang yang menganggur dan jumlah angkatan kerja.
2. Pendekatan pemanfaatan tenaga kerja ( Labour utilization approach) Untuk menentukan besar kecilnya tingkat pengangguran yang didasarkan dengan pemanfaatan tenaga kerja antara lain:
a) Bekerja penuh (employed) yaitu orang-orang yang berkerja penuh atau jam kerjanya mencapai 35 jam perminggu.
b) Setengah menganggur (underemployed) yaitu mereka yang berkerja, tetapi belum dimanfaatkan secara penuh, artinya jam kerja mereka dalam seminggu kurang dari 35 jam (murni,2006).
2.2.1. Jenis-jenis pengangguran
Menurut case (2004) dalam bukunya prinsip-prinsip ekonomi makro, pengangguran dapat dibedakan kedalam beberapa jenis yaitu sebagai berikut:
1. Pengangguran friksional (frictional unemployment)
Pengangguran friksional adalah bagian pengangguran yang disebabkan oleh kerja normalnya pasar tenaga kerja. Istilah itu merujuk pada pencocokan pekerjaan atau kerterampilan jangka pendek. Selain itu pengangguran friksional juga merupakan jenis pengangguran yang timbul sebagai akibat dari adanya perubahan di dalam syarat-syarat kerja, yang terjadi seiring dengan perkembangan atau dinamika ekonomi yang terjadi. Jenis pengangguran ini dapat pula terjadi karena berpindahnya orang-orang dari satu daerah ke daerah yang lain, atau satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain, dan akibatnya harus mempunyai tenggang waktu dan berstatus sebagai pengangguran sebelum mendapatkan pekerjaan yang lain.
2. Pengangguran Siklis (seasonal unemployment)
Pengangguran siklis atau pengangguran kongjungtur adalah pengangguran yang diakibatkan oleh perubahan-perubahan dalam tingkat kegiatan perekonomian. Pada waktu kegiatan ekonomi mengalalami kemunduran, perusahan-perusahan harus mengurangi kegiatan memproduksinya. Dalam pelaksanaannya berarti jam kerja di kurangi, sebagian mesin produksi tidak digunakan, dan sebagian tenaga kerja di berhentikan. Dengan demikian, kemunduran ekonomi akan menaikan jumlah dn tingkat pengangguran.
3. Pengangguran Struktural (structural unemployment)
Dikatakan pengangguran struktural karena sifatnya mendasar. Pencari kerja tidak mampu memenuhi persyaratan yang dibutuhkan untuk lowongan pekerjaan yang tersedia. Hal ini terjadi dalam perekonomian yang berkembang pesat. Makin tinggi dan rumitnya proses produksi atau teknologi produksi yang digunakan, menuntut persyaratan tenaga kerja yang juga makin tinggi. Dilihat dari sifatnya, pengangguran struktural lebih sulit diatasi dibandingkan pengangguran friksional. Selain membutuhkan pendanaan yang besar juga waktu yang lama, ada dua kemungkinan yang menyebabkan pengangguran structural yaitu sebagai akibat dari kemerosotan permintaan atau sebagai akibat dari semakin canggihnya teknik memproduksi, faktor kedua memungkinkan perusahan menaikan produksi dan pada waktu yang sama mengurangi pekerjaan.
4. Pengangguran teknologi
Pengangguran teknologi adalah pengangguran yang di sebabkan oleh pergantian penggunaan tenaga kerja manusia ke tenaga mesin karena kemajuan teknologi.
Jenis pengangguran berdasarkan cirinya menjadi empat, yaitu sebagai berikut :
1. Penganggura Terbuka
pengangguran terbuka terjadi akibat lowongan pekerja yang lebih rendah dari pertambahan tenaga kerja. Menurut BPS pengangguran terbuka terdiri dari mereka yang tak punya pekerjaan dan mencari pekerjaan, mereka tak punya pekerjaan dan mempersiapkan usaha, mereka yang tak punya pekerjaan dan tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan. mereka sudah mempunyai pekerjaan tetapi belum mulai bekerja.
2. Pengangguran Tersembunyi
Pengangguran ini terutama wujud disektor pertanian atau jasa. Setiap kegiatan ekonomi memerlukan tenaga kerja, dan jumlah tenaga kerja tergantung kepada banyak faktor, faktor yang perlu dipertimbangkan antara lain adalah besar atau kecilnya perusahaan, jenis kegiatan perusahan, mesin yang digunakan dan tingkat produksi yang diapakai. Di banyak Negara berkembang seringkali didapati bahwa jumlah pekerja dalam suatu kegiatan ekonomi lebih banyak dari sebenarnya untuk menjalankan kegiatanya supaya lebih efisien. Kelebihan tenaga kerja yang digunakan digolongkan dalam pengangguran tersembunyi
3. Pengangguran musiman
Pengangguran bermusim terutama terdapat pada sektor pertanian dan perikanan. contohnya pada musim pada musim hujan para petani dan nelayan tidak dapat melakukan pekerjaanya dan terpaksa menganggur. Apabila dalam masa diatas para petani dan para nelayan tidak dapat melakukan pekerjaan lain maka mereka terpaksa menganggur. Pengangguran ini digolongkan sebagai pengangguran musiman.
4. Setengah Menganggur
Yang termaksuk golongan ini adalah pekerja yang jam kerjanya dibawah jam kerja normal ( hanya 14 jam sehari). Disebut underemployment
2.2.2. Faktor-Faktor Penyebab Pengangguran
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pngangguran yaitu, pertama, menganggur karena ingin mencari kerja yang lebih baik. Kedua, pengusaha menggunakan teknologi modern untuk memproduksi barang, sehingga mengurangi penggunaan tenaga kerja. Ketiga, ketidksesuaian antara ketrampilan pekerja dengan ketrampilan yang diperlukan dalam industri.
Menurut (Sukirno,2 006: 14). Salah satu faktor penting dalam menentukan kemakmuran masyarakat adalah tingkat pendapatanya. Pendapatan masyarakat akan mencapai maksimum apabila tingkat penggunaan tenaga kerja penuh dapat diwujudkan. Pengangguran akan mengurangi tingkat kemakmuran masyarakat.
Ditinjau dari sudut individu, pengangguran menimbulkan berbagai masalah ekonomi dan social. Ketidakadaan pendapatan menyebabkan para pengangguran mengurangi pengeluaran untuk konsumsi, disamping itu dapat mengganggu taraf kesehatan keluarganya. Apabila pengangguran disuatu Negara sangat buruk, akan menyebabkan kekacauan politik dan Pengangguran berkepanjangan akan berdampak pada psikologis yang buruk bagi dirinya (pengangguran), keluarga dan menimbulkan efek yang buruk terhadap kesejateraan masyarakat dan prospek pembangunan ekonomi dalam jangka panjang.
2.3. Konsep Pertumbuhan Ekonomi
2.3.1. Pengertian Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi merupakan upaya peningkatan kapasitas produksi untuk mencapai penambahan ouput, yang di ukur menggunakan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dalam suatu wilayah. Pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan ouput perkapita dalam jangka panjang. Tekanannya pada tiga aspek yaitu : proses, ouput perkapita dan jangka panjang. Dari ini dapat melihat aspek dinamis dari suatu perekonomian, yaitu melihat bagaimana suatu perekonomian berkembang atau berubah dari waktu ke waktu. Tekanannya pada perubahan atau perkembangan itu sendiri.
Pertumbuhan ekonomi adalah perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang di produksikan dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat. Masalah pertumbuhan ekonomi dapat di pandang sebagai masala makro ekonomi dalam jangka panjang. Untuk miningkatkan pembangunan nasional, maka harus di dukung dengan pembangunan daerah yang dilaksanakan secara tepat. Laju pertumbuhan ekonomi daerah biasanya digunakan untuk menilai seberapa jauh keberhasilan pembangunan daerah dalam periode waktu tertentu. Pertumbuhan ekonomi daerah dapat ditunjukan oleh kenaikan GNP atau PDRB. Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakat mengelola sumber-sumber daya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dan swasta untuk menciptakan lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi dalam wilayah tersebut. Proses tersebut mencakup pembentukan institusi-institusi baru, pembangunan industri-indusrti alternative, perbaikan kapasitas tenaga kerja yang ada untuk menghasilkan produk dan jasa yang lebih baik.
2.3.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuha Ekonomi
Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi diantaranya seperti dibawah ini:
1. Faktor sumber daya manusia (SDM).
Sumber daya manusi adalah faktor yang penting karena dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Karena SDM merupakan faktor yang penting dalam proses pembangunan, cepat atau lambatnya proses dari pembangunan sangat tergantung pada sumber daya manusia yang selaku sebagai subjek pembangunan yang mempunyai kompetensi yang baik dan cukup memadai untuk melakukan proses dari pembangunan tersebut.
2. Faktor sumber daya alam (SDA)
Sumber daya alam merupakan faktor yang tidak kalah pentingnya dalam pembangunan atau pertumbuhan ekonomi, karena umumnya negara yang sedang dalam tahap perkembangan sangat bergantung pada sumber daya alam dalam pembangunan negaranya. Akan tetapi jika bergantung pada sumber daya alam saja tidak akan menjamin kesuksesan dalam proses pembangunan, jika tidak di dukung dengan kemampuan SDM (sumber daya manusia) yang ada.
3. Faktor Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
Perkembangan ilmu pengetahuan semakin kesini semakin pesat khususnya di bidang teknologi, hal tersebut dapa mengurangi pertumbuhan ekonomi suatu Negara, misalnya pergantian dalam memproduksi barang yang asalnya menggunakan tenaga manusia sekarang sudah banyak yang menggunakan mesin yang canggih dan modern yang tentunya akan lebih efisien dan lebih cepat dalam menghasilkan produk, yang pada akhirnya akan mempercepat pertumbuhan ekonomi .
4. Faktor Budaya
Faktor yang penting lainya dalah faktor budaya, faktor ini memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi karena memiliki fungsi sebagai pendorong proses pembangunan misalnya seperti kerja keras, bersikap sopan, dan lain-lain. Akan tetapi faktor ini bisa juga menghambat pembangunan atau pertumbuhan ekonomi misalnya seperti sikap egois, anarkis, dan sebagainya
5. Sumber daya modal
Dan faktor yang terakhir adalah sumber daya modal, faktor ini sangatlah dibutuhkan manusia dalam mengelola Sumber Daya Alam dan meningkatkan kualitas dari Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Sumber daya modal ini misalnya berupah barang yang penting untuk perkembangan serta kelancaran dalam pembangunan ekonomi. Sebab barang modal ini juga bisa meningkatkan dan memperbaiki produksi.
2.3.3. Indikator Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi diperlukan suatu indicator untuk mengukur tingkat kemajuan pertumbuhan ekonomi suatu negara, dimana dari indikator tersebut dapat digunakan untuk membandingkan tingkat kemajuan pertumbuhan atau tingkat kesejateraan masyarakat antar wilayah atau Negara dan mengetahui corak pertumbuhan ekonomi. Ada beberapa indikator untuk mengetahui tingkat pertumbuhan ekonomi yaitu sebagai berikut :
1. Pendapatan Perkapita
Pandapata kapita adalah pendapatan rata-rata penduduk suatu Negara pada periode tertentu, pendapatan perkapita dapat di peroleh dari pendapatan nasional dengan jumlah penduduk suatu Negara yang memiliki pendapatan meningkat dari periode sebelumnya.
2. Tenaga Kerja dan Pengangguran
Tenaga kerja adalah setiap orang yang dapat melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Sedangkan pengangguran merupakan kebalikan dari tenaga kerja, suatu negara dikatakan memiliki pertumbuhan ekonomi jika jumlah tenaga kerja lebih tinggi dari jumlah pengangguran.
3. Kesejahteraan Masyarakat
Kesejahteraan masyarakat merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi. Kesejahteraan masyarakat bisa dilihat dari tingkat kemiskinan yang semakin berkurang dan daya beli masyarakat yang semakin meningkat. Kesejahteraan masyarakat juga di tandai dengan pendaparan per kapita yang tinggi dan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya
2.3.4. Teori Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan Ekonomi merupakan indikator keberhasilan kinerja pemerintah dalam meningkatkan pembangunan ekonomi di setiap negara. Setiap negara akan berupaya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi paling optimal. Hal ini dikarenakan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas akan membawa manfaat bagi masyarakat yang luas. Dalam pertumbuhan ekonomi terdapat teori-teori dari para tokoh ekonomi diantaranya :
1. Teori Pertumbuhan Endogen
Teori yang dikemukan oleh Ramer menyajikan sebuah kerangka teori yang lebih luas dalam menganalisis proses pertumbuhan ekonomi. Teori ini mencoba untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi proses pertumbuhan ekonomi yang berasal dari dalam (endogenous) sistem ekonomi itu sendiri. Kemajuan teknologi dianggap hal yang bersifat endogen, dimana pertumbuhan ekonomi merupakan hasil dari keputusan para pelaku ekonomi dalam berinvestasi dibidang ilmu pengetahuan.
Model Romer ini menganggap ilmu pengetahuan sebagai salah satu bentuk modal. Ilmu pengetahuan merupakan suatu input terpenting dalam proses produksi. Hanya berkat ilmu pengetahuan orang dapat menciptakan metode baru dalam berproduksi sehingga memproleh keuntungan ekonomi dan ilmu pengetahuan yang ada sekarang tercipta karena adanya inovasi serta perbaikan dimasa lalu.
Lebih jauh lagi, Romer menekankan bahwa teknologi dan ilmu mengatakan merupakan faktor penentuan cepat atau lambatnya laju perekonomian suatu negara. Teori ini dengan jelas menggambarakan tentang bagaimana akumulasi modal tidak mengalami diminishing returns, namun justru akan mengalami increasing returns dengan adanya spesialiasi dan investasi di bidang SDM dan ilmu pengetahuan.
2. Teori Ekonomi Klasik
Adam Smith, seorang penemu teori ekonomi klasik yang cukup terkenal di masanya. Adam Smith dikenal dari dua bukunya, yakni An Inquiry Into the Nature and Causes of the Wealth of Nations yang terbit pada tahun 1776, dikenal dengan The Wealth of Nations mengenai ekonomi modern. Teori ekonomi klasik Adam Smith yang pernah dikemukakan sekitar abad 18 sampai dengan abad 19 mencetuskan lahirnya teori ekonomi kapitalis.
Teori ekonomi Adam Smith kala itu sempat memengaruhi ekonomi dunia, bahkan hingga saat ini. Teori Adam Smith terkait dengan sistem ekonomi klasik, secara garis besar mengedepankan penumpukan modal dengan cara besar-besaran dan mampu masuk pada sistem perekonomian negara maju seperti Amerika dan Eropa. Adapun inti dari paham teori ekonomi Adam Smith adalah merkantilisme atau penghilangan kesejahteraan individu atau Laissez Faire. Adapun merkantilisme juga menuai protes yang merupakan cikal bakal lahirnya teori ekonomi klasik. Ada dua teori ekonomi klasik Adam Smith yang dicetuskan, yakni teori pembangunan ekonomi dan teori pertumbuhan ekonomi. Kedua sistem kapitalis ini diartikan sebagai kebebasan pelaku usaha, di mana pemerintah tidak ikut campur dalam perekonomian. Adapun istilah yang dicetuskan adalah The Invisible Hand, di mana terdapat tangan-tangan yang tidak terlihat mampu mengatur mekanisme pasar yang kemudian ada pada setiap pelaku ekonomi, dengan memperoleh pendapatan dan juga kesejahteraan maksimum.
3. Teori Pertumbuhan Neo-Klasik
Teori pertumbuhan Neo-Klasik ini dikemukan oleh solow-swan yang menggunakan unsur pertumbuhan penduduk, akumulasi capital, kemajuan teknologi, dan besarnya output yang saling berinteraksi. Soloe-swan menggunakan model fungsi produksi yang memungkinkan adanya subtisusi antara capital dan tenaga kerja.
Teori solow-swan melihat bahwa dalam banyak hal mekanisme pasar dapat menciptakan keseimbangan sehingga pemerintah tidak perlu terlalu banyak mencampuri/mempengaruhi pasar. Campur tangan pemerintah hanya sebatas kebijakan fiscal dan kebijakan moneter. Hal ini membuat teori mereka dan pandangan para ahli lainnya yang sejalan dengan pemikiran mereka dinamakan pemikiran teori neo-klasik. Tingkat pertumbuhan berasal dari tiga sumber, yaitu akumulasi modal, bertambahnya penawaran tenaga kerja, dan peningkatan teknologi. Teknologi ini terlihat dari peningkatan skill atau kemajuan teknik sehingga produktivitasnya per kapita meningkat.
Dalam modal neo-klasik sangat memperhatikan faktor kemajuan teknik, yang dapat ditempuh melalui peningkatan kualitas sumber daya manusi (SDM), mutu SDM adalah menyangkul keahlian dan moral.Oleh sebab itu, pemerintahan perlu mendorong terciptanya kreativitas dalam kehidupan masyarakat agar produktivitas per tenaga kerja terus meningkat
2.3.5. Pengaruh Variable Independent Terhadap Variabel Dependen.
1. Pengaruh Pertumbuhan UMK Terhadap Pertumbuhan Ekonomi.
Usaha Mikro Kecil memilika peranan yang sangat penting di dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, tidak hanya di Negara-negara berkembanga seperti Indonesia tetapi juga di Negara maju. Di Indonesia selain berperan dalam pertumbuhan dan pengembangan ekonomi, usaha mikro kecil memiliki peranan penting dalam mengatasi pengangguran. Tumbuhanya usaha mikro kecil menjadikan sebagai sumber pertumbuhan kesempatan kerja dan pendapatan. Dengan menyerap tenaga kerja berarti UMK mempunyai peran untuk membantu pemerintah dalam penangulangan kemiskinan dan pengangguran.
2. Pengaruh Pengangguran Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Pengangguran merupakan salah satu masalah utama yang selalu dihadapi setiap negara. Berbicara mengenai masalah pengangguran, berarti tidak hanya berbicara tentang masalah sosial, tetapi juga berbicara tentang masalah ekonomi, karena pengangguran selain menyebabkan masalah sosial juga memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara khususnya suatu negara yang sedang berkembang seperti Indonesia.
Pengangguran merupakan salah satu penyakit ekonomi yang sangat berpengaruh terhadap tingkat pertumbuhan ekonomi. Pengangguran mengakibatkan orang tidak memiliki pendapatan dan mendorong mereka jatuh kejurang kemiskinan. Hampir di semua negara masalah pengangguran menjadi topik permasalahan yang serius dan masih sulit diatasi, termasuk di negara maju tingkat pengangguran masih tergolong tinggi apalagi seperti di negara berkembang seperti Indonesia. Karena semakin bertambahnya jumlah penduduk, semakin bertambah pula tenaga kerja. Jika tenaga kerja tidak dapat terserap ke dalam lapangan pekerjaan maka mereka akan tergolong ke dalam orang yang menganggur.
|
No |
Nama Penlitian |
Judul penelitian |
Variable penlitian |
Alat Analisis |
Hasil Penelitian |
|
1 |
Zubair (2014) |
Pengaruh Pertumbuhan Usaha Mikro Kecil dan Menengah, dan Pengangguran terdapat Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Sampang |
Pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), dan pengangguran |
Analisis regresi linier berganda |
Menunjukkan bahwa hasilnya pertumbuhan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sampang. Sedangkan pengangguran tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Sampang.
|
|
2 |
Pradnya Paramita Hapsari, Abdul Hakim, dan Saleh Soeaidy (2014) |
Pengaruh Pertumbuhan Usaha Kecil Menengah (UKM) terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah (Studi di Pemerintah Kota Batu)
|
Jumlah UKM, tenaga kerja UKM, Modal UKM dan Laba UKM |
Analisis regresi data panel |
Secara parsial variabel jumlah UKM dan tenaga kerja UKM tidak ditemukan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Batu, sedangkan untuk variabel Modal UKM dan Laba UKM ditemukan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan Ekonomi di Kota Batu.
|
|
3 |
Ade Raselawati (2011) |
Pengaruh Pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah Kabupaten Bogor |
jumlah unit UMKM, modal UMKM, laba UMKM dan tenaga kerja UMKM |
Analisis regresi data panel |
pertumbuhan UMKM berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bogor, dan pengujian secara parsial menunjukkan bahwa jumlah UMKM, laba UMKM memiliki pengaruh signifikan terhadap PDRB perkapita, sedangkan modal UMKM dan tenaga kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap PDRB perkapita
|
|
4 |
Sari Ratni (2018) |
Pengaruh Pertumbuhan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah Provinsi Jambi |
variabel pertumbuhan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan pertumbuhan ekonomi, |
Analisis regresi linier sederhana |
Menunjukkan bahwa hasilnya pertumbuhan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Daerah Provinsi Jambi . |
|
5 |
Mariana Kristiyanti (2013) |
Peran Strategis Usaha Kecil Menengah (UKM) Dalam Pembangunan Nasional |
UKM dan Pembanguann ekonomi nasional |
Metode analisis deskriptif |
Usaha Kecil Menengah (UKM) mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan ekonomi nasional, oleh karena selain berperan dalam pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja juga berperan dalam pendistribusian hasil-hasil pembangunan. |
|
6. |
Umi Kalsum (2015) |
Pengaruh Pengangguran dan Inlasi terhadap Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Utara |
Pengangguran dan inflasi |
Metode Regresi Berganda |
Penelitian ini menunjukan variable pengangguran berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi, sedangkan inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi |
|
7. |
Nita Sari (2018) |
Analisis Pengaruh Tingkat inflasi dan pengangguran terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Lampung |
Tingkat Inflasi dan Pengangguran |
Metode Analisis Regresi Berganda |
Penelitian ini menunjukan bahwa tingkat inflasi dan pengangguran berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi provinsi lampung |
Adapun kerangka pemikiran yang disajikan dalam penelitian ini sebagai berikut :
|
![]() ![]() ![]()
|
![]() |
Keterangan :
1. c : pengaruh pertumbuhan usaha mikro kecil dan pengangguran terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Maluku secara simultan
2. a dan b : pengaruh pertumbuhan usaha mikro kecil dan pengangguran terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Maluku secara parsial
Terkait dengan masalah pokok yang dikemukakan, maka hipotesis dalam penulisan ini adalah :
1. Diduga bahwa pertumbuhan usaha mikro kecil (UMK) berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Maluku.
2. Diduga bahwa pengangguran berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Maluku.
3. Diduga bahwa perrtumbuhan usaha mikro kecil (UMK) dan pengangguran berpengaruh terhadap Pertumbuhan ekonomi Provinsi Maluku
BAB III
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, penelitian ini yang banyak menggunakan angka-angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran data dari data tersebut, serta penampilan dari hasilnya. Ruang lingkup dari penelitian ini adalah menganalisis mengenai Pengaruh pertumbuhan usaha mikro kecil dan pengangguran terhadap pertumbuhan ekonomi provinsi maluku, yang nantinya akan mlihat kontribusi variable independen mempengaruhi variable depeden baik sacara bersama-sama (simultan) maupun secara sendiri-sendiri (parsial). Penelitian ini dilakukan dalam periode 8 tahun yaitu dari tahun 2010-2018 di Provinsi Maluku.
3.1.2 Metode Penentuan Sample
Metode yang digunakan dalam pemilihan objek pada penelitian ini adalah purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik penentuan sample berdasarkan karakteristik anggota yang disesuaikan dengan maksud dan tujuan penelitian. Sample dalam penelitian ini yaitu kabupatren kota yang ada di Provinsi Maluku yang jumlahnya ada 9 kabupaten kota.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per Kabupaten Kota di Provinsi Maluku sebagai variable dependen dalam penelitian ini. Karena PDRB merupakan indikator pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Pertumbuhan Usaha Mikro Kecil dan Pengangguran ditentukan sebagai variable indipenden. Ketersediaan data yang di peroleh oleh dinas-dinas terkait maupun instansi terkait hanya tersedia dari tahun 2010-2018. Sehingg penelitian ini menggunakan data panel. Data cross section di 9 kabupaten kota di Provinsi Maluku dan data time series selama 8 tahun yaitu tahun 2010-2018. Penggunaan data panel pada awalnya digunakan untuk mengatasi data availability, hal ini bisa terjadi karena bentuk data time series yang jumlahnya terlalu minim atau terbatasnya data cross section. Untuk itu dalam teori ekonometrika kondisi keterbatasan dapat diatasi dengan menggunakan data panel agar diperoleh hasil estimasi yang baik (efisien) dengan terjadinya peningkatan obserasi yang berimlikasi terhadap derajat kebebasan (degree of freedom). (Santikajaya dalah Raselawati 2013:49)
3.1.3. Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari puhak lain, tidak langsung diperoleh dari subjek penelitian. Data sekunder biasanya berwujud data dokumentasi atau data laporan yang telah tersedia. Data ini diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku dan KPW Bank Indonesia Provinsi Maluku.
1. Data Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Maluku Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 2010 Dari Tahun 2010-2018 (Juta Rupiah).
2. Posisi Kredit Usaha Mikro Kecil Bank Umum lokasi Proyek di Provinsi Maluku 2010-2018 ( juta Rupiah )
3. Data jumlah Pengangguran di Provinsi Maluku dalam jiwaTahun 2010-2018.
Dalam penelitian ini digunakan metode analisis regresi data panel atau data pool yaitu gabuangan antara data seksi silang (cross section) dan data runtut waktu (time series). Data panel diperkenalkan oleh Howles tahun 1950 merupakan data seksi silang (terdiri dari beberapa variable), dan sekaligus terdiri atas beberapa waktu. Sedangkan data pool sendiri merupakan bagian dari data panel, kecuali masing-masing kelompok dipisahkan berdasarkan objeknya. (Winarno, 2015:9.1)
Data panel secara substansial mampu menurunkan masalah omitted variable. Model yang mengabaikan tentang variable yang relevan. Untuk mengatasi interkorelasi diantara variable-variable bebas yang pada akhirnya dapat mengakibatkan tidak tepatnya penaksiran regresi, sehingga metode panel lebih tepat digunakan (Griffithts, 2001; Eviews, 2011:51). (Widyantoro 014:61)
Menurut Nachrowi dan Usman, (2006 ;311) untuk mengestimasi parameter model dengan data panel, terdapat beberapa teknik antara lain:
Pendekatan yang paling sederhana dalam pengolahan data panel adalah dengan metode kuadrat terkecil biasa yang di terpakan dalam data berbentuk pool, sering disebut pula dengan pooled least square. Model untuk teknik regresi adalah sebagai berikut :
Y = b₁ + b₂X₂it + b₃X₃it + …..+bnXnit + µit
Menambahkan model dummy pada data panel, pendekatan FEM memperhitungkan kemungkinan bahwa penelitian menghadapi masalah omitted-variable, yang mungkin membawa perubahan pada intercept time series atau cross-section. Model ini menambahkan variable dummy untuk mengizinkan adanya perubahan intercept. Model data panel untuk teknik regresi adalah sebagai berikut:
Yit = α + α2D2 + …..+ αn Dn +b2X2it + ….+ bn Xnit +µit
Memperhitungkan error dari data panel dengan metode least square, pendekatan REM memperbaiki efisiensi proses least square dengan memperhitungkan error dan cross-section dan time series. Model REM adalah variasi dari estimasi generalized least square (GLS). Model data panel untuk teknik regresi adalah sebagai berikut:
Yit = b1+ b2X2it + …..+ bnXnit+ αit + µit
Ada dua tahap dalam memilih metode dalam data panel. Pertama kita harus membandingkan PLS dengan FEM terlebih dahulu. Kemudian dilakukan uji F-test. Jika hasilnya menunjukan model PLS yang diterima, maka model PLS lah yang akan dianalisa. Tapi jika model FEM yang diterima, maka tahap kedua dijalankan, yakni melakukan perbandingan lagi dengan model REM. Setelah itu dilakukan pengujian dengan Hausman test untuk menentukan metode mana yang akan dipakai, apakah FEM atau REM.
uji ini dilakukan untuk mengetahui madel pooled least square (PLS) atau FEM yang akan digunakan dalam estimasi. Relatif terhadap Fixed Effect Model, Pooled Least Square adalah restricted model dimana ia menerapkan intercept yang sama untuk seluruh individu. Padahal asumsinya bahwa setiap unit cross section memiliki perilaku yang sama cenderung tidak relistis mengingat dimungkinkan saja setiap unit tersebut memiliki perilaku yang berbeda. Untuk mengujinya dapat digunakan restricted F-test, dengan hipotesis sebagai berikut.
HO : Model Comment Effect (Restricted)
H1 : Model Fixed Effect (Unrestricted)
Dasar penolakan pada hipotesis nol tersebut adalah dengan menggunakan F Statistik seperti yang dirumuskan oleh Chow:
![]()
![]()
![]()
Chow= ̴
Dimana :
RRSS = Restricted Residual Sum Square ( Sum Square Residual PLS)
URSS= Unrestricted Residual Sum Square ( Sum Square Residual Fixed)
N = Jumlah data cross section
T = Jumlah data time series
K = Jumlah variable independen
Dimana pengujian ini mengikuti distribusi F yaitu F K ( N – 1, NT – N – K). jika nilai Chow statistics ( F statistic ) hasil pengujian lebih besar dari F tabel, maka cukup bukti bagi kita melakukan penolakan terhadap HO sehingga model yang kita gunakan adalah Fixed Effect Model, begitu juga sebaliknya.
Hausman Test adalah pengujian statistic sebagai dasar pertimbangan kita dalam memilih apakah menggunakan Fixed Effect Model atau Random Effect Model. Pengujian ini dilakukan dengan Hipotesis sebagai berikut :
Ho : Random Effect Model
Ha : Fixed Effect Model
Sebagai dasar penolakan Ho maka digunakan statistic Hausman dan membandingkannya dengan Chi square. Statistik Hausman di rumuskan dengan
H = ( βREM – βFEM)’ (MREM – MFEM)-1 (βREM – βFEM) ̴ x2(k)
Dimana M adalah matrik kovarians untuk parameter β dan k adalah derajat bebas yang merupakan jumlah variable indpenden. Jika nilai H hasil pengujian lebih besar dari X2 (K), maka cukup bukti melakukan penolakan terhadap Ho sehingga model yang digunakan adalah Fixed Effect Model, begitu juga sebaliknya. Penelitian ini menggunakan analisis pendekatan secara sederhana menggambungkan seluruh data time series dan cross section dengan mengestimasi data panel. Model data panel untuk teknik regresi di formulasikan sebagai berikut :
Y = β0 + β₁ X₁it + β₂ X₂it + eit
Dimana :
Y = Pertumbuhan Ekonomi
β0 = Konstanta
β₁, β₂ = Koefisien Regresi Dari Setiap Variable yang Digunakan
Xit = Pertumbuhan Usaha Mikro Kecil
Xit = Pengangguran
eit = error
Pengujian ini digunakan untuk mengetahui apakah variable-variable independen secara individu dan bersama-sama mempengaruhi signifikan terhadap variable dependen. Uji statistic meliputi Uji F, Uji t, dan koefesien determinasi.
Koefesien determinasi mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi independentnya. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu R2 yang kecil berarti kemampuan variable-variable dependen sangat terbatas dan nilai yang mendekati 1 berarti variable- variable independen memberikan hampil semua informasi yang dibutukan untuk memprediksi variasi variable depennya (Kuncoro, 2003)
b. Uji signifikan Simultan (Uji-F)
Dilakukan untuk mengetahui apakah semua variable independen dalam penelitian secara bersama-sama berpengaruh terhadap variable dependen, perlu dilakukan pengujian koefisien regresi secara serentak. Pengujian menggunakan derajat signifikansi nilai F.
Ho : semua variable indpenden tidak berpengaruh terhadap variable dependen.
H1 : semua variable indpenden berpengaruh terhadap variable dependen.
Dasar pengambilan :
1. Jika nilai probabilitas ( signifikansi) > 0,005 maka Ho diterima dan H1ditolak.
2. Jika nilai probabilitas ( signifikansi) < 0,005 maka Ho ditolak dan H1diterima
Untuk mengetahui apakah variable independen secara parsial berpengaruh terhadap variable dependen. Pengujian ini dilakukan dengan melihat derajat signifikansi masing-masing variable bebas
Ho : Masing-masing indpenden tidak berpengaruh terhadap variable dependen.
H1 : Masing-masing variable indpenden berpengaruh terhadap variable dependen.
Dasar pengambil keputusan
1. Jika nilai probabilitas ( signifikansi) > 0,005 maka Ho diterima dan H1ditolak.
2. Jika nilai probabilitas ( signifikansi) < 0,005 maka Ho ditolak dan H1diterima
Salah satu asumsi dalam penerapan data panel adalah distribusi probabilitas dari gangguan uji-t memiliki rata-rata yang diharapkan sama dengan nol, tidak berkorelasi dan memiliki varian yang konstan. Salah satu asumsi dalam analisis statistika adalah data berdistribusi normal. Dalam analisis multivariate, peneliti menggunakan pedoman kalau tiap variable terdiri atas 30 data, maka data sudah berdistribusi normal. (Winarno, 2015 :41)
Meskipun demikian untuk menguji lebih akurat, perlu dilakukan analisis eviews menggunakan uji Jarque-Bere. uji Jarque-Bere adalah uji statistic untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal. Uji ini mengukur perbedaan swewness dan kurtosis data dan di bandingkan dengan apabila datanya berdistribusi normal.
Uji normalitas juga dapat dilihat dari gambar histogram, namun seringkali kurvanya tidak mengikuti bentuk kurva normal, sehingga sulit disimpulkan. Lebih mudah bila melihat koefisien Jarque-Bera dan Probabilitasnya. Kedua angka ini bersifat saling mendukung. Bila nilai J-B tidak signifikan ( lebih kecil dari 2), maka data berdistribusi normal. Bila probabilitas lebih besar dari 5 % ( bila menggunakan tingkat signifikan tersebut). Maka data berdistribusi normal.
Dapat didefenisikan sebagai korelasi antara serangkaian anggota observasi yang diurutkan menurut waktu seperti Dallam data deretan waktu. Autokorelasi dapat disefenisikan sebagai korelasi antara anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu seperti dalam data time series. Alat atau metode untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi adalah menggunakan metode uji LM (Lanrange Multiplier ) oleh Breusch godfey LM test.
Apabila nilai Obs*R-Square signifikan secara statistic maka terdapat masalah autokorelasi, dan apabila tidak signifikan maka tidak dapat terdapat masalah autokorelasi .
Apabila bilai probabilitas < 0,05 maka signifikan, dan apabila nilai probabilitas > 0,05 maka tidak signifikan.
Uji Heteroskedastisitas adalah
keadaan dimana faktor gangguan tidak memiliki varian yang sama. Adanya
heteroskedastisitas dalam model analisis mengakibatkan varian dan
koefisien-koefisien OLS tidak lagi minimum dan penaksiran-penaksiran OLS tetap
tidak bias dan kosisten. Metode yang digunakan untuk mendeteksi adanya
heterokedastisitas pada penelitian ini adalah uji white
heteroskedastisitas,
yang dapat dilakukan dengan program Eviews. Ada tidaknya autokorelasi
didasarkan pada distribusi tabel chi-square
(X2) .
a. Apabila nilai probabilitas (p-value) dari Obs*R-Square < α = 5% maka diterima Ha (terdapat Heteroskedastisitas).
b. Apabila nilai probabilitas (p-value) dari Obs*R-Square > α = 5% maka diterima Ha (tidak terdapat Heteroskedastisitas).
Hubungan yang menyatakan bahwa linear sempurna atau pasti, dintara beberapa atau semua variable yang menjelaskan dari model regresi. Ada atau tidaknya multikolinearitas dapat diketahui atau dilihat koefisien korelasi masing-masing variable bebas. Jika koefisien korelasi diantara masing-masing variable bebas lebih besar dari 0,8 maka terjadi multikolinearitas dan sebaliknya.
DAFTAR PUSTAKA
Anisa S, “Pengaruh Modal Usaha dan Jumlah Tenaga Kerja, Terhadap Pendapatan Industri Kecil (Studi Kasus pada Industry Mebel di Kelurahan Tanjung Sekar Kota Malang)”, Universitas Negeri Brawijaya Malang, 2015
Aryo Bimantoro, Wildan,” Pengaruh PDB UMKM dan Investasi UMKM terhadap Eksport UMKM Tahun 2000-2001 di Indonesia”, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulaj Jakarta,2014.
Eka Sobita, Nindiya dan I wayan Suparta, “Pertumbuhan Ekonomi Dan Penyerapan Tenaga Kerja Di Provinsi Lampung”, JEP-Vol.3, N0 2, Juli 2014.
Hakim, Lukman, PENGARUH BELANJA MODAL TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI (Studi Kasus Kabupaten dan Kota di Pulau Jawa dan Bali), Jurnal Ilmiah Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang vol. 3 No.1 2012
Handriani, Eka, “Pengaruh Faktor Internal Eksternal, Entrepreneurial Skill, Strategi dan Kinerja Terhadap Daya saing UKM Di Kabupaten Semarang”, Jurnal Dinamika Sosial Ekonomi Volume 7 Nomor 1 Edisi Mei 2011.
Hapsari, Pradnya Paramita & Abdul Hakim, Saleh Soeaidy, “Pengaruh Pertumbuhan Usaha Kecil Menengah (UKM) terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah (Studi di Pemerintah Kota Batu”, Jurnal Administrasi Publik Vol. 17, No. 2 (2014)
Kristiyanti, Mariana, “Peran Strategis Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Dalam Pembangunan Nasional”, Majalah Ilmiah INFORMATiKA Vol. 3 No. 1, Januari 2012
Sukirno, Sadono, “Makroekonomi Teori pengantar” .Edisi Ketiga, Rajawali Pers, Jakarta, 2011.
Tambuanan, Tulus, “Usaha Mikro Kecil Dan Menengah Di Indonesia Isu-Isu
Penting”, Penerbit LP3ES, Jakarta, 2012.
Todaro, Michael P. & Stephen C. Smith, “Pembangunan Ekonomi Jilid 1” .Edisi Kesebelas, Penertbit Erlangga, 2011.
Anwar Hidayat “Uji Asumsi Klasik dengan Eviews” di akses tanggal 1 agustus 2020 dari https://www.statistikian.com/2017/02/tutorial-uji-asumsi-klasik-eviews.html
Winarno, Wing Wahyu, “ Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan Eviews” .Edisi 4, UPP STIM YKPN, Yogyakarta, 2015




